Sahabat Seiman :)

Khamis, 28 April 2011

HUJAN DALAM SYARIAT ISLAM

\Alhamdulillah, hari-hari belakangan ini Doha-Qatar dikaruniai nikmat yang jarang dijumpai, hujan. Nikmat yang sering terabaikan, terutama bagi rekan-rekan kita di Indonesia yang karena seringnya mendapat hujan terkadang keluar umpatan yang menyelisihi syariat. Bagaimana sebenarnya syariat Islam memandang nikmat hujan ini?


Berikut kumpulan beberapa artikel yang berkaitan dengan hujan sebagai bahan muhasabah bagi kita:


Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini radhiallahu anhu dia berkata:


[LARGE][B]صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنْ  اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ  تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ  قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ  مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ  بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ  كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ[/B][/LARGE]


[I]“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kami shalat subuh  di Hudaibiah di atas bekas-bekas hujan yang turun pada malam harinya.  Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak  lalu bersabda, “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb  kalian?” mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau  bersabda: “(Allah berfirman), “Subuh hari ini ada hamba-hambaKu yang  beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang berkata, “Hujan turun  kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya,” maka dia adalah yang  beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata,  “(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu,” maka dia telah kafir  kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.”[/I] (HR. Al-Bukhari no. 1038)


Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:


[LARGE][B]أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا[/B]
[/LARGE]


[I]“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka  beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah  kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).”[/I] (HR. Al-Bukhari no. 1032)


Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


[LARGE][B]مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا  يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ  فِي الْأَرْحَامِ وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا  تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ  الْمَطَرُ[/B]
[/LARGE]


[I]“Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorangpun kecuali Allah:  Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari,  tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim,  tidak ada satu jiwapun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, tidak  ada satu jiwapun yang tahu di bumi mana dia akan mati, dan tidak ada  seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.”[/I] (HR. Al-Bukhari no. 1039)


[B]Penjelasan ringkas:[/B]
Hujan adalah nikmat dan anugerah dari Allah yang dengannya Dia  memberikan keutamaan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara  hamba-hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:


[LARGE][B]وأنزل من السماء ماءً فأخرج به من الثمرات رزقاً لكم[/B]
[/LARGE]


[I]“Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan  dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.”[/I] (QS. Al-Baqarah: 22)


Dan juga pada firman-Nya:


[LARGE][B]وهو الذي ينزل الغيث من بعد ما قنطوا وينشر رحمته[/B][/LARGE]


[I]“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.”[/I] (QS. Asy-Syuraa: 28)


Di antara manfaat turunnya hujan adalah:
[B]1. Sebab adanya rezki[/B].Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surah Al-Baqarah di atas.
[B]2. Hidupnya bumi. [/B]
Allah Ta’ala berfirman:


[LARGE][B]وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الأرض بعد موتها[/B][/LARGE]


[I]“Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya.”[/I] (QS. Al-Baqarah: 164)


[B]3.    Sebagai penyuci dalam thaharah.[/B]
Allah Ta’ala berfirman:


[LARGE][B]وينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به[/B]
[/LARGE]


[I]“Dan Dia menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu.”[/I] (QS. Al-Anfal: 11)


[B]4.    Untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup di bumi.[/B]
Allah Ta’ala berfirman:


[LARGE][B]هو الذي أنزل من السماء ماءً لكم منه شرابٌ ومنه شجرٌ فيه تُسيمون[/B][/LARGE]


[I]“Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian,  sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan)  tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian mengembalakan  ternak kalian.” [/I](QS. An-Nahl: 10)


Karenanya, menyandarkan sebab turunnya hujan kepada selain Allah –  baik itu kepada bintang tertentu atau kepada masuknya bulan tertentu  atau kepada selain-Nya – merupakan perbuatan mengkafiri nikmat dan  merupakan perbuatan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Karenanya, sudah  sepantasnya manusia menyandarkan turunnya hujan itu hanya kepada Allah,  karena tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan kecuali  Allah semata. Adapun bintang-bintang atau masuknya bulan tertentu maka  itu hanyalah sekedar waktu dimana Allah Ta’ala menurunkan  nikmat-nikmatNya kepada para hamba pada waktu tersebut, mereka bukanlah  sebagai sebab apalagi jika dikatakan mereka yang menurunkan hujan.


Imam Asy-Syafi’i berkata dalam Al-Umm mengomentari hadits Zaid bin  Khalid di atas, “Barangsiapa yang mengatakan ‘hujan diturunkan kepada  kita karena bintang ini dan itu’ -sebagaimana kebiasaan pelaku syirik-  dimana mereka memaksudkan menyandarkan sebab turunnya hujan kepada  bintang tertentu, maka itu adalah kekafiran sebagaimana yang Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam sabdakan. Karena munculnya bintang (atau  bulan, pent.) adalah waktu, sementara waktu adalah makhluk yang tidak  memiliki apa-apa untuk dirinya dan selainnya. Dan siapa yang mengatakan  ‘hujan diturunkan kepada kita karena bintang ini’ dalam artian ‘hujan  diturunkan kepada kita ketika munculnya bintang ini’, maka ucapan ini  bukanlah kekafiran, akan tetapi ucapan selainnya lebih saya senangi.”


Tatkala turunnya hujan terkadang bisa membawa manfaat dan terkadang  bisa mendatangkan mudharat, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam  mengajari umatnya agar meminta kepada Allah hujan yang mendatangkan  manfaat setiap kali hujan turun. Di antara keterangan yang menunjukkan  bahwa hujan terkadang membawa bencana dan siksaan adalah firman Allah  Ta’ala:


[LARGE][B]فكلاً أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصباً ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا[/B]
[/LARGE]


[I]“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka  di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil  dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan  di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara  mereka ada yang Kami tenggelamkan.”[/I] (QS. Al-Ankabut: 40)


Juga pada firman-Nya:


[LARGE][B]فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم[/B]
[/LARGE]


[I]“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” [/I](QS. Saba`: 16)


Waktu turunnya hujan termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh  Allah semata. Karenanya, barangsiapa yang mengklaim mengetahui waktu  turunnya hujan atau mengklaim bisa menurunkan hujan atau mengklaim bisa  menahan turunnya hujan (pawang hujan) maka dia telah terjatuh ke dalam  kekafiran dan kesyirikan berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak yang  menjelaskan kafirnya makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib.


[B]Sebab-sebab umum turunnya hujan:[/B]


[B]1.    Ketakwaan kepada Allah.[/B]
Allah Ta’ala berfirman:


[LARGE][B]ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض[/B]
[/LARGE]


[I]“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,  pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan  bumi.”[/I] (QS. Al-A’raf: 96)


[B]2.    Istighfar dan taubat dari dosa-dosa.[/B]
Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh bahwa beliau berkata:


[LARGE][B]فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفاراً. يرسل السماء عليكم مدراراً[/B][/LARGE]


[I]“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian,  sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan  hujan kepada kalian dengan lebat.”[/I] (QS. Nuh: 10-11)


[B]3.    Istiqamah di atas syariat Allah.[/B]
Allah Ta’ala mengabarkan:


[LARGE][B]وألّوِ استقاموا على الطريقة لأسقيناهم ماءًً غدقاً[/B][/LARGE]


[I]“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan  itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air  yang segar.” [/I](QS. Al-Jin: 16)


[B]4.    Istisqa`, baik sekedar berdoa maupun diiringi dengan shalat.[/B]


Artikel: [I]al-atsariyyah.com[/I]


[LARGE]5 Faedah Menawan Seputar Hujan[/LARGE]


[B]1. [/B][B]Meski Doanya Minta Hujan dikabulkan, tidak belajar kepadanya[/B]


Ilmu agama adalah perkara yang dapat menentukan keadaan selamatnya seseorang di dunia dan akhirat.


Oleh karena itu, dalam memilih guru, pengajar, ustadz dan syaikh  harus berhati-hati dan waspada dengan teliti. Jangan sampai keliru  belajar kepada orang yang sesat atau tidak memiliki keahlian masalah  ilmu agama, meskipun dia adalah orang yang shalih dan banyak beribadah.  Hal itu karena dapat mendatangkan bahaya, apabila sembarangan.


Dalam sebuah riwayat Imam Malik -rahimahullah- berkata, ”Aku telah  bertemu dengan segolongan kaum di negeri ini yang mana mereka sekiranya [B]meminta hujan[/B],  tentu akan diberi hujan, dan sungguh mereka telah mendengar hadits yang  banyak, tetapi aku tidak mengambil dari salah seorang di antara  mereka”. ([I]Tartiib al-Madarik wa Taqriib al-Masaalik[/I], karya al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sibti, I/137)


Beliau juga berkata, ”Aku pernah melihat Ayyub as-Sikhtiyani di Mekah  ketika melakukan dua kali haji, maka akupun tidak belajar dari beliau.  Pada kali yang ketiga aku melihat beliau duduk di halaman air zamzam.  Apabila disebut Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- di sisinya beliau  menangis sampai aku mengasihani beliau. Setelah mengetahui hal itu,  akupun belajar dari beliau. ([I]Tartiib,[/I] I/139).


[B]2. [/B][B][I]Amanah Ilmiyyah[/I][/B][B] Imam al-Muzani tampak[/B] [B]dalam menyebutkan ayat hujan.[/B]


Imam al-Muzani mengatakan, “Bab Thaharah” Imam Syafi’i berkata, “Allah -azza wa jalla- berfirman:


[LARGE]وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا[/LARGE]


[I]Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira  dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari  langit air yang amat bersih[/I]. (QS. al-Furqan: 48)”. ([I]Mukhtashar al-Muzani,[/I] hlm. 1)