Sahabat Seiman :)

Isnin, 21 Februari 2011

TUJUAN JIHAD DALAM ISLAM!

Syahid Dr Muhammad Huseiny Bahesti dan Syahid Dr Muhammad Jawad Bahonar

Pada dasarnya Islam menjelaskan difa' sebagai pertahanan dari agresi (serangan) yang dibuat (diatur) musuh untuk menguasai (tanah air) muslim dan menangkis dari usaha mengkontrol sumber alam negara muslim.Sesungguhnya difa’ untuk pertahan dan keadilan.

Jihad secara leksikal berarti: Usaha keras untuk mencapai suatu tujuan. Dalam terminology Islam berarti berkorban untuk Allah, yaitu, demi untuk menyelamatkan masyarakat dari ketidak-adilan dan penindasan, menegakkan kalimah tauhid serta menciptakan sistim keadilan sosial.

Difa’: Bentuk khusus dari jihad yang tujuannya untuk mencegah dari serangan musuh (aggressor). Pada dasarnya Islam menjelaskan difa' sebagai pertahanan dari agresi (serangan) yang dibuat (diatur) musuh untuk menguasai (tanah air) muslim dan menangkis dari usaha mengkontrol sumber alam negara muslim. Sesungguhnya difa’ untuk pertahan dan keadilan.

Tujuan Islam

Islam dengan program mulianya bertujuan untuk membentuk/mendirikan persatuan umat manusia dan kebebasan manusia. Jadi dia perang melawan setiap kemusyrikan, kedholiman dan kemunafikan. Umat muslim merasa bertanggung jawab bukan hanya untuk membimbing individu tapi juga mansyarakat. Dengan dasar kehidupan yang berlandaskan keadilan dan ke-Esa-an Allah; tapi juga sejauh mungkin untuk mempropagandakan kebenaran, membangkitkan mereka yang tertindas dan di dhalimi, menghentikan segala bentuk korupsi dan membenahi kebebasan.

Merupakan kewajiban bagi muslimin untuk bekerja menghilangkan semua halangan dijalan pertumbuhan dan perkembangan manusia serta tidak menampakkan perbedaan diantara mereka. Muslimin tidak hanya berkewajiban mempertahankan batas keberadaan pengaruh agama mereka, tapi juga harus memperluasnya. Juga merupakan kewajiban bagi muslimin untuk bertahan dari aggressor dengan semua jalan yang memungkinkan, menentang kedholiman, korupsi dan saling menghormati satu dengan yang lain.

Dapat disimpulkan ada beberapa tujuan jihad:

1. Menyebar luaskan keyakinan/kepercayaan kepada Allah sesuai dengan perintahNya.
a. ”Perangilah di jalan Allah mereka yang memerangi kamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 190).
b. ”Jihadlah pada (jalan )Allah dengan jihad yang sebenarnya” (QS. Al-Hajj [22]: 78).

2. Membantu yang lemah dan tertindas.
a. “Apa yang menyebabkan kamu berhenti dari perang dijalan Allah dan orang orang yang tidak ada penolong, perempuan dan anak anak” (QS. An-Nisa’ [4]: 75).

3. Mengentikan fitnah.
a. “Perangi mereka hingga tidak ada fitnah” (QS. Al-Anfal [8]: 39).

Agresor adalah buruk siapapun pelaku agresi tersebut.
Perang di jalan Allah haruslah dilaksanakan dengan seksama dimana dengan taklif dan ketaatan dia tidak dibenarkan keluar dari batasan keadilan. Muslim dilarang menceroboh nilai dasar hak azazi manusia: “Perangilah di jalan Allah mereka yang memerangi kamu, tapi jangan kamu melakukan penindasan, Allah tidak menyukai penindasan”,  “(Serang mereka) di bulan Haram (kalau mereka menyerang kamu) di bulan suci. Kesucian sesuatu yang merupakan qishash. Kalau (seseorang) menyerang kamu, maka serang mereka dseperti mereka menyerang. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama sama dengan orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah [2] :194).

Sistem suci tidak memiliki double standart (standar ganda). Kalau hal itu merupakan agresi yang jahad dan penindasan bagi yang lain, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai hal yang suci dan mulia bagi pengikutnya.

Jihad Menentang Egoisme

Ditujukan kepada kelompok yang baru kembali dari suatu peperangan,
Rasulullah bersabda: “Saya ucapkan selamat yang telah berhasil menyelesaikan perang kecil (minor). Sekarang kamu menghadapi perang besar (mayor)”.

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah apakah jihad besar itu ?”.
Beliau menjawab: “Jihad melawan hawa nafsu (ego)”. (Wasail al-Syiah, jilid 6, hal. 122).
“Jihad yang paling baik adalah dia yang memerangi kebuasan nafsunya sendiri (Wasail al-Syiah, jilid 6, hal. 124).

Islam Adalah Sistem Global
Islam tidak dikirim kepada masyarakat tertentu, dia adalah sistem global. Dari pandangan muslim; setiap tempat adalah milik Allah dan Dialah yang menciptakan semua itu. Islam tidak diperuntukkan untuk satu negara dan bangsa tertentu. Islam menginginkan seluruh dunia mendapatkan keuntungan dalam kehidupannya dengan ajarannya. Quran telah menjelaskan bahwa dia adalah tuntutan untuk semua dan Rasul Islam menjadi rahmad bagi seluruh dunia.

Semua manusia tanpa batasan suku, bangsa dan negara dapat menjadi anggota dari Muslimin yang besar dengan menerima prinsip prinsip dasar Islam, maka jadilah muslim, muslim satu dengan yang lain bersaudara. Untuk membebaskan masyarakat dari doktrin yang rusak dan dari setiap kesalahan, merupakan kewajiban bagi semua terutama Mukminin untuk membimbing masyarakat di jalan yang benar.

Tanggung jawab Islam tidak terbatas oleh territorial (tapal batas daerah/negara), dia universal dan tidak ada daerah yang menjadikannya terbatas sehingga dapat membatasi persatuan umat Muslimin. Ungkapan ini tidak berarti memaksa doktrin kepada yang lain, sebagaimana Quran telah menyatakan, tidak ada paksaan dalam agama. Jalan benar dan salah telah jelas:
“Tidak ada paksaan dalam agama, kebenaran telah diperjelas (dipisahkan) daribathil” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Usaha besar ini haruslah mencakup tujuan untuk menghilangkan hambatan mitos , keterikatan kedholiman (ketidakadilan) dan merubah manusia dari semua bentuk penjajahan, penindasan dan kebodohan: “Apa yang membuat kamu berhenti dari perang di jalan Allah…” (QS. An-Nisa’ [4]: 75).

Sebelum memulai peperangan haq harus diterangkan dahulu. Biasaya terdapat beberapa orang dari musuh yang telah keluar dengan keinginan memerangi kebenaran karena keterpaksaannya atau kebodohannya dari kenyataaan (haq). Maka satu dari tujuan jihad adalah membebaskan manusia dari kebodohan,penindasan dan penjajahan. Merupakan kewajiban bagi pemimpin tentara muslimin sebelum memulai peperangan untuk menjelaskan terdahu jalan yang haq. Sehingga mereka mengetahui kebeanran yang sebenarnya sehingga mereka tidak memerlukan saling untuk membunuh (orang jahil/bodoh).

Imam Ali as pernah bersabda: Ketika Rasulullah mengutus saya ke Yaman, beliau bersabda: "Wahai Ali, jangan memerangi seseorang pun sebelum engkau mengajak mereka kepada Islam dan menerima kebenaran. Demi Allah, apabila engkau sukses membimbing satu orang di jalan yang benar, itu adalah keberhasilan yang besar". (Al-Kafi, jilid 5, hal. 34).

“Merupakan kewajiban bagi Muslimin untuk bekerja menghilangkan semua halangan di jalan pertumbuhan dan perkembangan manusia serta tidak menampakkan perbedaan diantara mereka. Muslimin tidak hanya berkewajiban mempertahankan batas keberadaan pengaruh agama mereka, tapi juga harus memperluasnya.”

Fasilitas yang disiapkan Islam untuk tujuan ini:

Apabila seseorang diantara tentara musuh hendak masuk Islam dan atau hendak mendiskusikannya dengan mereka sehingga jelas bagi mereka tentang Islam, atau hendak mempelajarinya dengan baik individual maupun kolektif tentang kehidupan Muslimin dari dekat sehingga mengetahui dengan baik kebenaran, maka mereka harus mempersiapkannya. Untuk tujuan ini kalau seorang prajurit kecil dari tentara musuh meminta perlindungan kepada seseorang maka dia akan dihormati oleh semua umat Muslim dan juga Negara Islam.

Setiap muslim memiliki tanggung jawab yang sama, satu jaminan untuk satu diantara mereka merupakan jaminan untuk semua. Kalau seorang prajurit diberi kehormatan oleh seseorang maka itu merupakan kehormatan pelindungan dari semua umat Muslimin.

Perdamaian Dalam Islam

“Damai adalah baik…” (QS. An-Nisa’ [4]: 128).
Pada umumnya, secara natural manusia mencintai perdamaian, karena itu semua sistem kemasyarakatan –termasuk yang mendasari filosofinya dengan pertentangan dan kontrasisi– menjanjikan perdamaian dunia di masa mendatang. Quran menjelaskan pencegahan peperangan yang tidak diperlukan untuk pertahanan karena Allah dan menyelamatkan masyarkat yang tertindas, “Kalau mereka menjanjikan damai maka berdamailah, bertaqwalah kepada Allah…” (QS. Al-Anfal [8]: 61).

Tapi berhati hatilah, jangan sampai perdamaian hanya merupakan intrik politik atau militer dan permainan saja; “…tapi kalau mereka menginginkan hanya tipu muslihat saja maka berlindunglah pada Allah…”(QS. Al-Anfal [8]: 62).

Persiapan Lengkap Menghadapi Musuh

Sekalipun Islam mementingkan perdamaian, tapi juga mengingatkan Muslimin untuk mempersiapkan diri. Hal ini diharapkan untuk membuat musuh baik secara rahasia maupun terbuka tidak akan berani melakukan agresinya tehadap muslimin. “Siapkanlah kekuatan sedapat mungkin…”. (QS. Al-Anfal [8]: 60).

Perlu diingat bahwa kata: quwwah (kekuatan) mencakup semua bentuk termasuk kekuatan industrial. Sebagaimana perkembangan persaingan industri, maka kewaiban agama kepada muslimin untuk mencapai kemajuan industri dengan tehnologi modern. Mereka harus mempersenjatai dengan persenjataan modern sehingga musuh tidak berkeinginan untuk menyerang, adanya keinginan untuk menyerang karena mereka melihat muslimin lemah.

Menungang Kuda Dan Memanah
Telah di tentukan agama bahwa muslimin haruslah mempersiapkan dirinya agar siap berjihad, agar mendapat kemerdekaan atau mempertahankan keberadaaannya, seperti menunggang kuda dan memanah. Muslimin digalakkan untuk berpartisipasi didalamnya, dengan membuat pertandingan dan digalakkan memberikan hadiah bagi pemenangaya. Ide ini agar muslimin selalu siap untuk menyerang dan bertahan.

Tentulah menunggang kuda dan memanah disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa. Semangat yang harus dimiliki oleh muslimin adalah semangat berkemampuan kemampuan taktis sesuai dengan masanya dengan mengikuti training persiapan jihad. Secara menyeluruh. Setipa mualim doanjurkan untuk kuatsehinggga cukupmempu membela dan mempertahankan diri, idiologi, negaranya dari penjajahyang hendak menguasainya.Ini merupakan taktik suci Ilahi dimana kalau Negara tidak siap mengorbankan untuk mempertahankan hak dan keadilan , tidak mempertahankan hak azazi dan keberadaaanya dia akan jatuh pada kehancuan dan kehinaan.

Mereka yang meninggalkan perang dan tidak berkemampuan untuk itu akan hina dihadapan Allah, akan dilingkari kehancuran, hatinya akan gelap, dia akanmenyeleweng dari kebenaran. Selama dia tidak melakukan keadilan untuk jihad dia akan dirundung kekhawatiran dan kesusahan, inilah terkucilan keadilan.

Keabadian (Immortal)

Quran menyatakan bahwa jihad seperti hidup yang memberikan stimulasi pada individu dan masyarakat: ”Wahai orang orang yang beriman,jawablah panggilan Allah dan Rasul ketika (Dia) menyeru kepada apa yang menghidupkan kamu…” (QS. Al-Anfal [8]: 24).

Mujahid adalah dia yang menyerahkan hidupnya pada Allah Yang Abadi. Setiap muslim diharapkan memiliki iman kepada keabadian syahid yang telah memberikan pengorbanan suci di jalan Allah. Iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan merealisasikan dengan keinginan yang benar untuk mengorbankan diri. Harapan seorang yang beriman adalah jihad di jalan Allah, dibanding dengan; mencintai orang tua, anak-anak, harta benda, kekayaan dan pekerjaan (perdagangan) ketika ia mendengar panggilan keluar untuk jihad di jalan Allah, dia akan memenuhinya dengan menuju ke medan perang. (Surah Taubah 9:23-24)

Seorang yang dididik Islam mengetahui bahwa interes dan keinginan personal merupakan hal yang alami (natural) dan akan memenuhinya dengan semua batasannya, tidak membunuhnya (mematikannya) dan juga tidak celaka karenanya. Kalau tidak dia akan menjadi keburukan dan celaka sebagaimana telah diceritakan dalam sejarah. (seperti peristiwa di Sodom dan Gomorah; kaum nabi Luth as).

Mujahid adalah dia yang tidak menghentikan usahanya… (QS. An-Nisa’ [4]: 95, 96).

Mujahid tidak terkalahkan dan tidak kenal menyerah… (QS. Ash-Shaff [61]: 4, Fushshilat [41]: 30-32, Al-Anfal [8]: 15-16)…

Masyarakat yang hendak dibangun oleh Islam adalah masyarakat; hidup, aktif/dinamik, kuat dan membawa misi dunia. Karakteristik dari masyarakat ini haruslah berlandaskan tiga hal berikut ini:

1. Mengenal dengan baik semua aspek masyarakat yang hendak dibangun dengan dasar Islam.
2. Mengetahui dengan praktis setiap langkah pembentukan masyarakat.
3. Menyadari dan menentukan setiap usaha pengorbanan yang diperlukan.

Dengan kurangnnya pengetahuan, kurangnya usaha kita tidak akan dapat sampai menikmati sistim yang diinginkan Allah.

Kita berdoa :

Ya Allah, kami ingin mengabdi kepada Mu dibawah perintah yang penuh berkat, yang membawa kemuliaan pada Islam dan muslimin dan kehinaan pada kafir dan kekufuran.

Ya Allah, dalam perintah itu jadikan kami yang mengajak orang untuk taat kepada Mu, menuntun mereka di jalanMu dan berilah kami berkat di dunia dan akherat.

Ya Allah, kami berlindung padaMu dari angkara nafsu yang mengajak kami berbuat buruk kecuali dengan RahmatMu, kami berlindung dari syaitan yang selalu menambah dosa kami.

Ya Allah, limpahkan kepada kami Rahmat-Mu,dan safaat Muhammad dan Aali Muhammad. Terangkan mata kami untuk dapat melihat pengetahuan agama kami,berilah keyakinan di hati kami, keikhlasan beramal dan bantulah kami untuk dpat berterima kasih kepadaMu hingga akhir hayat kami.

Ya Allah, jadikan kami tentara-Mu, sesungguhnya tentara-Mu adalah mereka yang menang, jadikan kami partai-Mu, sesungguhnya partai-Mu adalah mereka yang berhasil, jadikan kami auliaya’-Mu karena auliya’-Mu adalah mereka yang tidak ada takut dan sedih padanya. Shalallah ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.
Amin ya Rabbil alamin.

resepi atau ubat mujarab yang boleh menghapuskan dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Hasan Al-Bashri seorang ulama’ terkemuka yang berasal dari Bashrah, Iraq menyaksikan seorang pemuda datang kepada seorang doktor yang menanyakan perkara berikut :

Wahai doktor, apakah tuan memiliki resepi atau ubat mujarab yang boleh menghapuskan dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?

Doktor itu menjawab : Ya!

Pemuda itu berkata lagi : Berikan pada saya resepi mujarab itu!

Doktor berkata : 

"Ambillah sepuluh bahan pelebur dosa itu :

SEPULUH BAHAN PELEBUR DOSA

PERTAMA :
Ambillah akar pohon rasa ‘fakir’ dan berhajat kepada Allah bersama dengan akar kerendahan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah.

KEDUA :
Jadikan ‘taubat’ sebagai campurannya.

KETIGA :
Lalu masukkan ia dalam wadah ‘ridha’ atas semua ketentuan dan takdir Allah.

KEEMPAT :
Campurkan dengan campuran ‘qana'ah’ rasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita.

KELIMA :
Masukkan dalam kuali ‘takwa’.

KEENAM :
Tuangkan ke dalamnya air ‘rasa malu’.

KETUJUH :
Lalu didihkanlah dengan api ‘cinta’.

KELAPAN :
Kemudian masukkan dalam adunan ‘syukur’.

KESEMBILAN :
Serta keringkan dengan kipasan ‘harap’.

KESEPULUH :
Lalu akhirnya minumlah dengan sendok ‘pujian’.
Jika engkau mampu melakukannya pastilah engkau mampu mencegah penyakit dan berbagai ujian samada di dunia mahupun akhirat" jelas doktor itu.

APABILA HILANG RASA FAKIR
Ramai orang yang melakukan dosa dan kesalahan terhadap Allah kerana dia merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan seakan-akan tidak lagi memerlukan (rasa fakir) kepada sesiapapun, termasuk pada Yang Maha Kaya.
Dia beranggapan bahwa dirinya mampu melakukan semua perkara dengan :
a.      Kekuatannya.
b.      Kemampuannya.
c.      Potensi dirinya.
d.      Tenaga dirinya.

Dia merasa bahwa semua yang dia dapatkan adalah hasil dari :
1.      Kekuatan fikirannya.
2.      Kemampuan ilmunya.
3.      Kejernihan pengiraannya.
4.      Kematangan perhitungannya.

Inilah yang berlaku kepada Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudiannya Allah turunkan azab kepadanya dengan ditelankannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada :
a.      Kecongkakannya.
b.      Kesombongannya.
c.      Keangkuhannya.
yang dipamerkannya sehingga membuatkan bumi merasa marah.

APABILA HILANG RASA RIDHA  

Sumber dosa lainnya adalah kerana orang itu ‘tidak ridha’ dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya.
Sering kali dari bibirnya keluar keluhan dan bahkan kritikan kepada Allah kenapa Allah tidak memberikan yang "terbaik" :
  1. Menurut pandangannya.
  2. Menurut persepsinya.
  3. Menurut pemikirannya.
Dia menyangka bahwa apa yang dia alami ketika ini :
  1. Tidaklah sesuai bagi dirinya.
  2. Tidak patut untuk dirinya.
  3. Tidak layak untuk diterima.
Dia seakan-akan lebih tahu dari Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui dengan terperinci semua perkara samada yang baik mahupun yang buruk bagi hambaNya.
Inilah yang berlaku kepada Qabil tatkala menuntut ayahnya agar dia dikahwinkan dengan adik kembarnya padahal Allah swt telah menentukan keputusan yang lain untuknya.
Lambat kembali kepada Allah merupakan penyebab lain dari tidak terhapusnya dosa-dosa yang kita lakukan.

BERTAUBATLAH! 

Berlaku mendapan dosa kerana seringkali kita menunda ‘taubat’ yang sepatutnya kita lakukan dengan cepat.
Padahal Allah swt memerintahkan kita untuk segera merapatkan diri kepada Allah setelah beberapa lama kita telah menjauhinya.
Getarkanlah hati kita semua dengan kesesalan di atas semua kesalahan yang kita lakukan.
Mereka seakan-akan tidak tahu bahwa Allah swt sentiasa menerima taubat hambaNya dan Allah sangat senang dengan taubat mereka.
Ini sebagaimana firman Allah swt :
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima sedekah, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (QS At-Taubah : 104)

APABILA HILANG RASA SYUKUR  

Rasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita merupakan penyakit kronik yang melahirkan :
1.      Buruk sangka kepada Allah.
2.      Menyangkal kehendak Allah.
3.      Menyalahkan Allah.
Rasa tidak puas dengan kurniaan Allah akan mengecilkan rasa ‘syukur’ kita kepadaNya dan bahkan satu ketika akan memadamkannya.

APABILA HILANG RASA QANA’AH 

Lenyapnya rasa ‘qana'ah’ di atas segala kurniaanNya akan membuahkan ketamakan dan ketamakan akan melahirkan kezaliman-kezaliman manakala dari kezaliman akan memunculkan kerosakan-kerosakan yang akan menghancurkan susunan kehidupan.

SEMARAKKAN RASA TAKWA

Jika dalam diri kita telah ada rasa kefakiran, rasa ridha dan qana'ah dan taubat maka semangat‘takwa’ kepada Allah hendaknya kita pupuk terus menerus dan kita bina dengan saksama.
Ini adalah kerana ketakwaan itu laksana sebuah tanaman yang jika dibina dengan sebaik-baiknya maka dia akan tumbuh subur dan indah dan jika kita biarkan maka ketakwaan itu akan segera layu dan lesu.
Ketakwaan boleh kita sirami dengan dengan :
a.      Rasa takut kepada Allah.
b.      Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
c.      Puas dengan apa yang ada.
d.      Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk perjalanan akhir kita iaitu kematian.
Jadikan ‘takwa’ terus menerus tumbuh, berkembang dan berterusan sampai maut datang menjelang.

KEKUATAN RASA MALU  

Hendaknya kita merangsang ketakwaan kita sehingga kita merasa ‘malu’ untuk melanggar setiap perintah dan larangan Allah samada di khalayak ramai ataupun bersendirian.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran : 102)

HADIRKAN SEMANGAT CINTA

Ketakwaan kita akan semakin bermakna apabila yang menjadi pendorongnya adalah ‘cinta’(mahabbah) kepada Allah.
‘Cinta’ kepada Allah sepenuh jiwa dan hati yang tidak lagi membuatnya berfikir atau merasa rugi dalam melaksanakan perintah dan anjuranNya.
Semangat cinta yang membakar hatinya akan sentiasa menggerakkannya untuk sentiasa :
1.      Dekat denganNya.
2.      Merapatkan diri kepadaNya.
3.      Giat berusaha untuk mencapai ridha dan kasihNya.
4.      Meminum melalui cawan rahmatNya.
dalam setiap langkah-langkah hidup dan goresan sejarahnya.
Rasa cintanya yang menggelegak kepada Allah akan sentiasa membuatkan :
a.      Hidupnya terasa benar-benar bermakna.
b.      Langkahnya penuh pasti menuju Kekasihnya.
c.      Cawan cintanya sentiasa dipenuhi dengan air mata takwa, ridha, qana’ah, taubat, syukur, tawakkal dan sabar.

TINGGIKAN RASA HARAP

Bagi para pencinta, yang di’harap’kannya bukan lagi dirinya tapi Zat yang dicintainya dan dia :
1.      Larut dalam gelombang kasihNya.
2.      Larut dalam rahmatNya.
3.      Masuk dalam dakapan ridhaNya.

PUJIAN YANG TIADA BATAS

Akhirnya pujian yang setinggi-tingginya hendaklah diangkat kepada Zat yang memang berhak untuk itu.
Oleh yang demikian, ramuan kefakiran kepada Allah adalah :
Taubat + Ridha + Qana'ah + Takwa + Malu + Cinta + Syukur + Harap + Pujian kepada Allah.  
Di mana ianya akan membersihkan dosa kita serta mencairkan kesalahan kita.
Yakinlah bahwa resepi ini, selain mampu menghapuskan dosa kita, ia juga akan menambah kesegaran keimanan kita serta menambah tenaga keislaman kita dan memantapkan akar ihsan kita.
Selamat mencuba dan insyaAllah kita akan merasai khasiatnya dengan hasil jiwa yang segar dan jernih serta dosa yang minima setiap hari.

Ya Allah, berilah kemudahan kepada kami untuk kami menggunakan ubat dan resepi dariMu yang cukup berkesan untuk menimbulkan rasa fakir dan bergantung kepadaMu, menghapuskan segala dosa-dosa kami, menambah kesegaran keimanan kami serta memantapkan hakikat ihsan kami terhadapMu.

Ameen Ya Rabbal Alameen


"UKHUWAH TERAS KEGEMILANGAN"
"IKRAM WADAH PERJUANGAN"